Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup)
Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot'nya.
Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~
Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro.
Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan kematian Cal, kenangan dan kesedihan akan kehilangan Cal sangat membekas pada dirinya dan ibunya. Kematian Cal merubah hidup, pribadi, dan kebiasaan mereka.
Well. Gue tau rasanya bagaimana ditinggalkan oleh orang yang sangat-sangat dekat dalam hidup. Entah itu orang tua, saudara, sahabat, pacar, atau mungkin mantan pacar (kalau yang ini kayanya sedih tapi ya gmana gitu yaaa.. wkwk)
Cerita ini mengkisahkan bagaimana Rachel berusaha untuk move dari rasa sakitnya ditinggalkan oleh Cal dengan cara menyimpan cerita tentang Cal rapat-rapat. Sepuluh bulan setelah kematian Cal, pesimistis masih mendominasi pikiran Rachel, trauma masih juga menghantui setiap langkahnya.
Gue sempet mengalami itu. Saat gue kehilangan nyokap, gue juga sempat mengalami trauma yang baru hilang setelah lebih dari 10 bulan. Gue trauma sama rumah sakit. Sejujurnya gue sama sekali gak mau menginjakkan rumah sakit pasca meninggalnya nyokap. Tapi apadaya, bokap butuh ditemenin ke rumah sakit buat menjalani pengobatannya pasca meninggalnya nyokap.
Sanggupkah gue menghadapi tantangan itu? Iya, gue sanggup. Gue cukup kuat buat melawan trauma gue sendiri. Walaupun sampai sekarang sisa-sisa trauma itu sendiri masih ada.
Beberapa orang sahabat gue selalu bilang kalau gue orang yang kuat. Mereka mengandaikan posisi mereka ada di posisi gue, dan mereka menyimpulkan bahwa kemungkinan besar mereka gak akan bisa bertahan waras dan berpikir logis seperti yang selalu berusaha gue tunjukkan. Emang sih, seringkali gue milih mendem masalah sendiri daripada cerita ke mereka, berusaha menyelesaikan semuanya sendiri dengan berbagai rancangan skenario masa depan yang mungkin terjadi.
Gw ingetin buat kalian yang suka kaya gitu. Berhentilah! Itu gak baik buat kesehatan jiwa dan pikiran kalian.
Karena saat kalian berada di titik paling berat (atau lebih tepatnya terlalu asik mendem pikiran sendirian) kalian akan meledak. Bagus kalau meledak terus masih bisa balik jadi bener, kalau enggak? Mampuslah kau wahai kisanak!
Dan kemarin itulah yang terjadi lagi sama gue. Setelah sekian lama dipendem-pendem, setelah lewat setahun nyokap pergi, gue malah meledak dan nangis sejadi-jadinya, mengakui keresahan gue selama ini ke salah satu sahabat gue. Dan di situ gue disadarkan sama temen gue ini, gue masih punya Tuhan yang Mahahebat yang selalu sayang sama gue. Dan gue juga jadi inget, gue terlalu sombong jadi manusia, merasa segala yang ada saat ini bukan pemberian Tuhan.
Kebetulan, gue sempet baca komik tentang refleksi manusia yang merasa dekat dengan Tuhan. Manusia saat berdosa merasa sangat jauh dari Tuhan dan malah mencari-cariNya, tapi saat dirinya merasa dekat dengan Tuhan dia akan merasa suci dan malah merasa jadi orang paling tau segalanya tentang Tuhan, bahkan bisa berlaku seolah-olah menjadi wakil Tuhan.
Gue kebalikannya sih, gue kalo berdosa malah makin jauh sama Tuhan.. wkwk.. Manusia ga tau diri emang gue, sombong, dan lupa bahwa apa yang ada di sekitar gue adalah pemberianNya.
Gue suka lupa, segala masalah yang gue hadapi termasuk meninggalnya nyokap merupakan pelajaran dari Tuhan. Merupakan anugrah dari Yang Kuasa. Masalah dan kesedihan yang gue hadapi harusnya membuat gue semakin dekat dengan Tuhan. Gue punya orang-orang yang gue sayang dan mereka juga sayang sama gue (walaupun mereka gengsi buat ngomong sayang ke gue.. wkwk). Mereka sebenarnya hadir di saat-saat terpuruk gue, cuma gue aja yang suka sombong buat nengok ke mereka.
Dan cerita tadi berakhir bahagia saat Rachel bisa menceritakan kesedihannya kepada orang lain.
Di sini gue semakin sadar, bahwa bener adanya berbagi perasaan yang mengganjal kepada orang lain tentunya akan membuat hati lebih lega. Dan Tuhan sudah menciptakan manusia untuk saling melengkapi (tidak hanya sebagai pasangan hidup ya), untuk bisa saling berbagi. Lalu, berkat Tuhan mana lagi yang kau sangsikan?
Terakhir, gue sekali lagi akan merangkum refleksi panjang lebar gue yang sebenernya gak terlalu bermutu. Apapun kesulitan yang dihadapi sebagai seorang manusia, baiknya tidak menumpulkan kemampuan kita untuk bersosialisasi. Tuhan telah menciptakan manusia untuk menghuni dunia dengan sesamanya, memberikan teman untuk bisa saling membantu. Seandainya ada masalah yang harus kau hadapi, ingatlah, bahwa Tuhan sudah sangat sayang padamu hingga Ia mau memberikan berkat berupa orang lain yang hidup dan peduli kepadamu.
Akhir kata, semoga damai selalu bersamaku, bersamamu, dan bersama semua orang yang kita sayang, menjamah mereka yang berbahagia dan bersedih, melindungi mereka yang sakit maupun yang sehat...
Komentar
Posting Komentar