Langsung ke konten utama

Teruntuk kamu, yang pernah menyimpan hatiku...

Empat bulan sudah terlewati tanpa ada sapaan suara maupun sekedar pesan singkatmu. Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakanmu. Hatiku masih memikirkanmu, asal kamu tahu saja.
Tapi, memang itu yang terbaik untuk kita.

Maaf kalo aku terkesan egois. Tapi enam tahun aku rasa cukup sudah untuk hubungan kita. Bukan aku tidak pernah berharap kita bisa mengucap janji pernikahan di depan altar, disaksikan kedua orang tua kita, tapi ada satu titik aku tidak mampu lagi menerimamu. Aku memilih melepasmu untuk keegoisanku.

Kata orang, cinta itu memberi, bukan menuntut.

Dan sekali lagi aku minta maaf karena aku egois. Karena aku tidak mau memberi, aku lebih memilih untuk menuntut kamu setelah kita menjalani LDR. Menuntut perhatian kamu, menuntut pendampinganmu di saat aku sedih, menuntut kamu menjadi pejuang dalam hubungan kita, menuntut kamu tentang masa depan kita. Dan saat kamu akhirnya muak dan tidak dapat memberi jawaban apapun padaku, aku memilih untuk menyudahi apa yang selama ini kita bangun.

Untuk ketiga kalinya aku memohon maaf.

Pernah suatu kali aku membaca, sosok kekasih ideal adalah seseorang yang bukan hanya sekedar ada waktu kita butuh teman ngobrol, berpegangan tangan, ataupun bermanja-manja. Kekasih idaman adalah dia yang mau menyukai apa yang kamu suka, rela begadang menjagamu di kala sakit, memperhatikan makanan dan kesehatanmu, selalu berusaha untuk membuatmu tertawa di kala sedang bersedih.

Kamu seperti itu saat kita tidak menjalani hubungan jarak jauh. Kamu menyukai apa yang aku suka, atau setidaknya kamu belajar menyukainya sehingga akhirnya dapat menerimanya tanpa protes. Kamu rela berkorban waktu saat aku sakit dan jauh dari orang tua untuk merawat aku. Kamu selalu memastikan aku tidak kelaparan dengan menemani aku makan, dan kamu selalu tau aku sedih dan selalu berusaha menghiburku dengan candaanmu yang terkadang tidak lucu.

Kamu sosok yang ideal. Sayangnya aku egois.

Jadi kamu, kumohon dengan sangat. Lupakanlah aku. Lupakanlah cintamu padaku dan carilah cintamu yang baru. Carilah sosok yang mampu mengerti dan mau memberi kamu. Hubungan kita yang telah berakhir bukan karena salahmu, salahku karena aku menjadi sosok egois, yang selalu ingin menuntut kamu. Kalau pun aku rindu, biar saja aku yang rindu dan menyesal atas keputusanku ini. Janganlah kamu sekali-sekali menoleh kepadaku lagi. Janganlah kamu menerima kalau aku mengemis-ngemis cinta kepadamu di masa depan.

Karena kamu tau, aku cinta kamu, tapi aku egois.


Maaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Words in Deep Blue

Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup) Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot 'nya. Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~ Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro .  Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan ke...

9 Maret 2017 - tulisan yang tertunda untuk diselesaikan

Selamat hari Kamis. Selamat beraktifitas. Dan hari itu kebetulan saya ulang tahun. Di hari ulang tahun saya, saya lebih memilih untuk kembali ke kota pelajar, daripada diam saja di rumah dan menanti ucapan selamat dari handai taulan saya. Apa yang saya ingat di hari ulang tahun biasanya? Entah. Saya ingat mama di pagi hari tadi, begitu saya membuka mata pukul 5 pagi. Ulang tahun memang selalu terjadi tiap tahun, tapi tahun ini menjadi tahun yaang... Hmmmm... Apa harus dikatakan istimewa atau tidak? Tidak, tidak istimewa. Menurut saya. Pagi ini. Selama 24 tahun ke belakang, mama menjadi orang pertama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun di antara anggota keluarga saya. Mungkin begitulah adanya seorang ibu, selalu mengingat ulang tahun putra putrinya. Pada dasarnya keluarga saya bukanlah keluarga yang suka merayakan ulang tahun dengan cara yang dibesar-besarkan, sekedar ucapan selamat ulang tahun dan makan bersama di luar. Lalu,bagaimana mama menjadi kenangan pertam...

Merry Christmas! Walaupun Telat Ngucapinnya... (part 2)

Udah kaya film horor ya, ada part duanya segala. Melanjutkan topik yang kemarin sudah berusaha diangkat, yaitu tradisi di hari raya natal. Saya yakin kalau sebagai umat Katolik pasti tradisi yang sama adalah pergi ke greja, mengikuti misa baik saat Malam Natal maupun hari Natalnya, setelah itu mengucapkan selamat natal kepada orang-orang di sekitarnya, entah kenal entah tidak, sebagai pengingat sukacita Natal dirayakan bersama-sama sebagai bentuk kelahiran Yesus Kristus. Dulu sewaktu mama masih ada, Natal terasa jauh lebih ceria dibanding tahun ini (atau mungkin saya yang sedang tidak bersemangat merayakan apa-apa). Pohon Natal mungkin sudah tidak terpasang, mengingat Pohon Natal yang lama sudah tidak layak pasang dan entah sudah tidak dikertahui rimbanya di mana. Tapi, mama selalu berpesan tiap menjelang natal supaya tidak lupa membeli kue-kue kering untuk dimakan bersama, baik dimakan sendiri atau untuk disajikan saat ada tamu. Semacam perayaan kemenangan bisa bebas ma...