Saya menyambut tahun 2017 bukan dengan hati yang gembira.
Mungkin menurut pandangan umum ini adalah sesuatu yang salah, tapi saya mungkin bisa berkelit dengan alasan saya sendiri.
19 November 2016 adalah tanggal di mana Mama saya meninggal pada pukul 08.35. Suatu kejadian yang tentunya tidak pernah diharapkan oleh orang-orang pada umumnya, ditinggalkan orang tua yang kita sayangi.
Perjuangan mama selama 2016 untuk melawan penyakitnya mungkin adalah suatu ujian juga untuk saya. Kurang lebih selama tiga bulan mama sempat menjalani perawatan di rumah sakit dan di rumah, walaupun mama lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di rumah. Dan selama mama di rumah sakit, sayalah yang senantiasa menemaninya.
.
.
.
.
Mama saya, bukan orang yang cengeng. Pertama kali saya melihat mama menangis, saat saya berumur 13 tahun, saat tante saya (saya memanggilnya bibi tua) yang merupakan kakak dari mama saya meninggal, dengan diagnosis adanya kanker rahim yang tidak diketahui dan sudah terjadi penyebaran. Saat kami tiba di rumah bi tua, saat itu juga mama langsung jatuh menangis di samping jenazah bi tua. Itu adalah kenangan pertama saya melihat mama menangis.
Mama bukan tipe orang yang dengan mudah memamerkan air matanya di depan anak-anaknya. Mungkin mama pernah kecewa dengan saya atau abang-abang saya, tapi mama tidak pernah menagis di depan kami. Mungkin mama juga pernah menangis karena suaminya, bapak saya, tapi mama tidak pernah menangis di depan kami anak-anaknya. Itulah mama saya, selalu menunjukkan bahwa Ia wanita yang tegar dan selalu menjadi supermom untuk kami anak-anaknya.
Ya itulah mama saya. Tapi 3 bulan dalam masa perawatan, saya sering melihat mama menangis. Menangis dengan meneteskan air mata, atau mungkin menangis dalam hati. Bukan berarti saya bisa melihat saat mama menangis dalam hati, tapi ekspresi mama waktu seperti itu akan saya pahami sebagai suatu kesedihan yang bisa membuatnya menangis.
Selama tiga bulan, kapan saja mama menangis?
1. saat sakit yang tidak tertahankan
2. saat sakit yang menjadi-jadi hingga secara otomatis akan meneteskan air mata
3. saat mama tertawa sambil menahan sakit sehingga air mata akan sedikit keluar
Apakah semuanya saat merasa sakit? Iya, yang saya lihat seperti itu. Mama menangis hanya saat sakit yang tak tertahankan. Apakah mama menangis dalam hati juga? Sekali lagi saya katakan, saya akan menduga sebenarnya seringkali mama menangis dalam hati. Tapi dikarenakan ada saya di ruangan yang sama, mama tidak akan menunjukkan air matanya, dengan tujuan agar saya pun tidak ikut bersedih melihat beliau.
Seringkali di saat kami hanya berdua, mama akan bertanya dengan senyum yang sedikit dipaksakan, "Capek ya ngerawat mama?" Dan saya hanya akan membalasnya dengan senyuman atau acuhan, berpura-pura sedang mengerjakan sesuatu. Apakah mama menangis melihat reaksi saya yang seperti itu? saya tidak tahu, tapi saya tahu, itu adalah salah satu kesalahan yang saya lakukan saat mama sakit. Mungkin mama akan menangis dengan respon saya, tapi saya tetap berlaku egois.
.
.
.
Sudah 100 hari mama pergi meninggalkan dunia ini. Terbiasa tanpa ada mama di rumah mulai bisa saya jalani. Tapi tidak mudah untuk saya menghapus semua kenangan tentang mama. Salah satunya ya air mata mama yang jarang saya lihat. Tahun 2017 mungkin akan saya jalani dengan air mata yang sering mengalir saat kenangan akan mama datang menyerbu begitu saja.
Tapi, satu hal aku ingin berkata pada mama saat ini juga, "Ma kalau aku nangis karena mengingat mama, biar saja, aku cuma rindu. Yang penting mama di atas sana harus yakin, aku akan baik-baik saja di sini, dan aku tidak akan membiarkan orang lain membuat aku nangis. Karena aku mau kuat kaya mama, saat badai menerjang, mama tetap tegar layaknya batu karang. I love you, mom. Always." :)
Komentar
Posting Komentar