Langsung ke konten utama

Ibarat baju usang, udah butut tapi nyaman dipakai~

Sebagai anak kosan yang berbakti dan rajin bersih-bersih, pagi-pagi saya biasa mengurus cucian (saya sendiri) dan bekas peralatan makan yang kemarin digunakan oleh saya.

Dan pagi ini saya menyetrika cucian yang sudah kering.

Dan saya mendapat ilham untuk bahan tulisan kali ini.

Ilham itu datang di saat saya menggosok salah satu kaos lengan panjang saya yang sudah butut. Bentuknya sudah tidak karuan, warna putihnya sudah mulai kecoklatan, tapi semakin nyaman untuk digunakan, apalagi saat malam-malam dingin dan hujan.
Sambil menggosok saya mengenang lagi momen-momen yang pernah saya lewati menggunakan kaos tersebut.

Kaos itu dibeli di Bogor, saya waktu itu sekitar kelas 3 SMA, hmmm, sudah lama juga ternyata saya memiliki kaos tersebut, pantas sudah lusuh. Saya membelinya bersama mama waktu itu, di Ramayana Pasar Bogor. Saya bukan tipe anak yang terbiasa meminta baju-baju seharga 150ribu ke atas kepada mama saya, maka dari itu pada momen itu saya sempat berpikir-pikir terlebih dahulu untuk memilih baju itu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata waktu itu sedang diskon, sehingga harga baju itu tidak mencapai 150ribu rupiah. Dan saya pun tidak ragu untuk minta dibelikan oleh mama.

Kenangan berikutnya yang terlintas adalah saat akhirnya saya memakai baju itu dan memamerkannya kepada seseorang (yang pada saat itu) istimewa di hati saya. Saya mengenakannya saat bertemu dengannya. Janji  untuk bertemu dan menonton di bioskop saat itu. Dan saya dengan senang membanggakan baju baru saya.

Mengenang momen-momen saya dengan baju itu jujur membuat saya merasa sendu.
Dua hal di atas adalah yang paling melekat dalam otak saya. Dan dua orang yang terlibat sudah tidak ada dalam peredaran dunia saya. Mama yang telah berpulang, dan dia yang sudah menjadi kenangan.

Apa yang saya pikirkan berikutnya?

Saya mulai berpikir, ‘Apa baiknya baju ini dibuang aja ya? Udah lusuh juga, ga layak dibawa jalan juga, dan selalu terkenang lagi sama dua orang itu. Tapi rasanya sayang, masih nyaman dipake tidur.’
Sama seperti kenangan. Kenangan yang saya ceritakan tadi mungkin sudah lama berlalu, untuk diceritakan ke orang-orang lain pun tidak layak karena jelas tidak menarik. Tapi daya tariknya ada pada kenyamanan yang saya dapat saat mengenangnya.

Saat saya mengenang waktu membeli baju itu, jelas saya akan otomatis teringat mama. Mungkin tidak akan 100% ingat kejadian keseluruhannya, tapi saya masih ingat sensasi-sensasi perasaan yang saya hadapi kala itu. Antara ingin, tapi tidak enak kalau menuntut harus beli itu padahal harganya tidak sesuai, eh akhir-akhirnya bisa terbeli juga karena ada jalan keluar.

Begitu juga saat dengan kekasih saya kala itu. Rasa senang dan ingin pamer baju baru. Memang terdengar seperti ABG labil, tapi saya memang benar-benar merasa senang saat itu. Apalagi saat dia tersenyum dan mengatakan baju itu cocok saya gunakan.

*tersenyum sendiri*

Akhirnya, baju itu tidak jadi saya buang.

Menambah baju baru bukan berarti harus membuangnya.

Menambah kenangan bahagia baru bukan berarti harus melupakan yang lama.
Hanya saja, mungkin kenangan bahagia itu tidak bisa terulang dengan orang yang sama. Sama seperti adanya kemungkinan saya tidak bisa lagi membuat momen dengan baju yang sudah lusuh tadi. Membuat kebahagiaan baru bisa dengan orang baru lainnya, membuat momen bahagia lainnya bisa dengan baju yang baru lainnya.

Tapi, tidak membuang kenangan bahagia yang lusuh juga menjadi penting. Karena itu akan membuat nyaman di kala-kala dingin dan sepi melanda.

So, buatlah kenangan dan momen bahagia lainnya dengan orang baru-baru di sekitar, tanpa pernah melupakan jasa orang-orang yang telah terlebih dahulu membuatnya dengan kita.


*walau pada akhirnya kemungkinan besar saya tetap harus menyisihkan baju itu untuk disumbangkan. J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Words in Deep Blue

Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup) Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot 'nya. Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~ Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro .  Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan ke...

Merry Christmas! Walaupun Telat Ngucapinnya... (part 2)

Udah kaya film horor ya, ada part duanya segala. Melanjutkan topik yang kemarin sudah berusaha diangkat, yaitu tradisi di hari raya natal. Saya yakin kalau sebagai umat Katolik pasti tradisi yang sama adalah pergi ke greja, mengikuti misa baik saat Malam Natal maupun hari Natalnya, setelah itu mengucapkan selamat natal kepada orang-orang di sekitarnya, entah kenal entah tidak, sebagai pengingat sukacita Natal dirayakan bersama-sama sebagai bentuk kelahiran Yesus Kristus. Dulu sewaktu mama masih ada, Natal terasa jauh lebih ceria dibanding tahun ini (atau mungkin saya yang sedang tidak bersemangat merayakan apa-apa). Pohon Natal mungkin sudah tidak terpasang, mengingat Pohon Natal yang lama sudah tidak layak pasang dan entah sudah tidak dikertahui rimbanya di mana. Tapi, mama selalu berpesan tiap menjelang natal supaya tidak lupa membeli kue-kue kering untuk dimakan bersama, baik dimakan sendiri atau untuk disajikan saat ada tamu. Semacam perayaan kemenangan bisa bebas ma...

Teruntuk kamu, yang pernah menyimpan hatiku...

Empat bulan sudah terlewati tanpa ada sapaan suara maupun sekedar pesan singkatmu. Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakanmu. Hatiku masih memikirkanmu, asal kamu tahu saja. Tapi, memang itu yang terbaik untuk kita. Maaf kalo aku terkesan egois. Tapi enam tahun aku rasa cukup sudah untuk hubungan kita. Bukan aku tidak pernah berharap kita bisa mengucap janji pernikahan di depan altar, disaksikan kedua orang tua kita, tapi ada satu titik aku tidak mampu lagi menerimamu. Aku memilih melepasmu untuk keegoisanku. Kata orang, cinta itu memberi, bukan menuntut. Dan sekali lagi aku minta maaf karena aku egois. Karena aku tidak mau memberi, aku lebih memilih untuk menuntut kamu setelah kita menjalani LDR. Menuntut perhatian kamu, menuntut pendampinganmu di saat aku sedih, menuntut kamu menjadi pejuang dalam hubungan kita, menuntut kamu tentang masa depan kita. Dan saat kamu akhirnya muak dan tidak dapat memberi jawaban apapun padaku, aku memilih untuk menyudahi apa yang sela...