Selamat hari Kamis. Selamat beraktifitas.
Dan hari itu kebetulan saya ulang tahun. Di hari ulang tahun saya, saya lebih memilih untuk kembali ke kota pelajar, daripada diam saja di rumah dan menanti ucapan selamat dari handai taulan saya.
Apa yang saya ingat di hari ulang tahun biasanya?
Entah.
Saya ingat mama di pagi hari tadi, begitu saya membuka mata pukul 5 pagi.
Ulang tahun memang selalu terjadi tiap tahun, tapi tahun ini menjadi tahun yaang... Hmmmm... Apa harus dikatakan istimewa atau tidak?
Tidak, tidak istimewa. Menurut saya. Pagi ini.
Selama 24 tahun ke belakang, mama menjadi orang pertama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun di antara anggota keluarga saya. Mungkin begitulah adanya seorang ibu, selalu mengingat ulang tahun putra putrinya.
Pada dasarnya keluarga saya bukanlah keluarga yang suka merayakan ulang tahun dengan cara yang dibesar-besarkan, sekedar ucapan selamat ulang tahun dan makan bersama di luar. Lalu,bagaimana mama menjadi kenangan pertama yang muncul saat saya membuka mata di hari itu?
Apabila saya sedang di rumah (yang berarti saya sedang tidak beraktifitas di kampus), mama sering membangunkan saya di pagi hari dengan mengetuk-ngetuk kamar saya, Tapi di hari ulang tahun saya, biasanya mama selalu mengetuk pintu kamar saya lebih pagi dari biasanya. Sengaja. Biar bisa jadi orang pertama di antara yang lainnya mengucapkan ulang tahun (walaupun, sebenarnya, seringkali teman-teman saya yang terlebih dahulu mengucapkan melalui telpon atau media sosial).
Tapi ucapan langsung di pagi hari dengan bertatap muka jauh lebih sederhana dan terlihat tulus. Tanpa ada embel-embel apapun dan menjadi sesuatu yang istimewa untuk saya. Itulah ibu saya di hari ulang tahun saya. Istimewa.
Dan ini adalah hari pertama saya kehilangan keistimewaan itu. Keistimewaan diucapkan secara langsung dan tatap muka oleh ibu saya,
Tapi, untuk itu semua, saya tidak boleh bersedih.
Bagaimanapun saya kehilangan momen tersebut, saya sadar bahwa dari atas sana, beliau selalu mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya, putri semata wayangnya. Mungkin saat ini pun beliau sedang menatap saya dengan penuh kasih, menyampaikan doa-doa terbaik untuk saya kepada Tuhan. Bukankah sekarang mama lebih mudah untuk mengucapkan doa itu dibandingkan sebelumnya, karena posisinya yang lebih dekat dengan Tuhan?
Mamaku sayang, selalu sayang padaku, bukan hanya di hari ulang tahun ini saja, tapi setiap harinya, tiada berkurang sedikit pun kasih sayangnya padaku. Terima kasih Tuhan, telah Kau berikan seorang ibu yang baik, yang aku temui pertama kali pada 9 Maret 1992 secara nyata saat aku terlahir ke dunia ini. Terima kasih Tuhan atas umur yang baru, walaupun mama tidak ada secara fisik di sampingku, aku tau, mama selalu mengawasiku bersamaMu. I love you, Mom. Selamat ulang tahun untukku dari mamaku tersayang :)
Dan hari itu kebetulan saya ulang tahun. Di hari ulang tahun saya, saya lebih memilih untuk kembali ke kota pelajar, daripada diam saja di rumah dan menanti ucapan selamat dari handai taulan saya.
Apa yang saya ingat di hari ulang tahun biasanya?
Entah.
Saya ingat mama di pagi hari tadi, begitu saya membuka mata pukul 5 pagi.
Ulang tahun memang selalu terjadi tiap tahun, tapi tahun ini menjadi tahun yaang... Hmmmm... Apa harus dikatakan istimewa atau tidak?
Tidak, tidak istimewa. Menurut saya. Pagi ini.
Selama 24 tahun ke belakang, mama menjadi orang pertama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun di antara anggota keluarga saya. Mungkin begitulah adanya seorang ibu, selalu mengingat ulang tahun putra putrinya.
Pada dasarnya keluarga saya bukanlah keluarga yang suka merayakan ulang tahun dengan cara yang dibesar-besarkan, sekedar ucapan selamat ulang tahun dan makan bersama di luar. Lalu,bagaimana mama menjadi kenangan pertama yang muncul saat saya membuka mata di hari itu?
Apabila saya sedang di rumah (yang berarti saya sedang tidak beraktifitas di kampus), mama sering membangunkan saya di pagi hari dengan mengetuk-ngetuk kamar saya, Tapi di hari ulang tahun saya, biasanya mama selalu mengetuk pintu kamar saya lebih pagi dari biasanya. Sengaja. Biar bisa jadi orang pertama di antara yang lainnya mengucapkan ulang tahun (walaupun, sebenarnya, seringkali teman-teman saya yang terlebih dahulu mengucapkan melalui telpon atau media sosial).
Tapi ucapan langsung di pagi hari dengan bertatap muka jauh lebih sederhana dan terlihat tulus. Tanpa ada embel-embel apapun dan menjadi sesuatu yang istimewa untuk saya. Itulah ibu saya di hari ulang tahun saya. Istimewa.
Dan ini adalah hari pertama saya kehilangan keistimewaan itu. Keistimewaan diucapkan secara langsung dan tatap muka oleh ibu saya,
Tapi, untuk itu semua, saya tidak boleh bersedih.
Bagaimanapun saya kehilangan momen tersebut, saya sadar bahwa dari atas sana, beliau selalu mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya, putri semata wayangnya. Mungkin saat ini pun beliau sedang menatap saya dengan penuh kasih, menyampaikan doa-doa terbaik untuk saya kepada Tuhan. Bukankah sekarang mama lebih mudah untuk mengucapkan doa itu dibandingkan sebelumnya, karena posisinya yang lebih dekat dengan Tuhan?
Mamaku sayang, selalu sayang padaku, bukan hanya di hari ulang tahun ini saja, tapi setiap harinya, tiada berkurang sedikit pun kasih sayangnya padaku. Terima kasih Tuhan, telah Kau berikan seorang ibu yang baik, yang aku temui pertama kali pada 9 Maret 1992 secara nyata saat aku terlahir ke dunia ini. Terima kasih Tuhan atas umur yang baru, walaupun mama tidak ada secara fisik di sampingku, aku tau, mama selalu mengawasiku bersamaMu. I love you, Mom. Selamat ulang tahun untukku dari mamaku tersayang :)
Komentar
Posting Komentar