Langsung ke konten utama

9 Maret 2017 - tulisan yang tertunda untuk diselesaikan

Selamat hari Kamis. Selamat beraktifitas.
Dan hari itu kebetulan saya ulang tahun. Di hari ulang tahun saya, saya lebih memilih untuk kembali ke kota pelajar, daripada diam saja di rumah dan menanti ucapan selamat dari handai taulan saya.

Apa yang saya ingat di hari ulang tahun biasanya?

Entah.

Saya ingat mama di pagi hari tadi, begitu saya membuka mata pukul 5 pagi.

Ulang tahun memang selalu terjadi tiap tahun, tapi tahun ini menjadi tahun yaang... Hmmmm... Apa harus dikatakan istimewa atau tidak?

Tidak, tidak istimewa. Menurut saya. Pagi ini.

Selama 24 tahun ke belakang, mama menjadi orang pertama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun di antara anggota keluarga saya. Mungkin begitulah adanya seorang ibu, selalu mengingat ulang tahun putra putrinya.

Pada dasarnya keluarga saya bukanlah keluarga yang suka merayakan ulang tahun dengan cara yang dibesar-besarkan, sekedar ucapan selamat ulang tahun dan makan bersama di luar. Lalu,bagaimana mama menjadi kenangan pertama yang muncul saat saya membuka mata di hari itu?

Apabila saya sedang di rumah (yang berarti saya sedang tidak beraktifitas di kampus), mama sering membangunkan saya di pagi hari dengan mengetuk-ngetuk kamar saya, Tapi di hari ulang tahun saya, biasanya mama selalu mengetuk pintu kamar saya lebih pagi dari biasanya. Sengaja. Biar bisa jadi orang pertama di antara yang lainnya mengucapkan ulang tahun (walaupun, sebenarnya, seringkali teman-teman saya yang terlebih dahulu mengucapkan melalui telpon atau media sosial).

Tapi ucapan langsung di pagi hari dengan bertatap muka jauh lebih sederhana dan terlihat tulus. Tanpa ada embel-embel apapun dan menjadi sesuatu yang istimewa untuk saya. Itulah ibu saya di hari ulang tahun saya. Istimewa.

Dan ini adalah hari pertama saya kehilangan keistimewaan itu. Keistimewaan diucapkan secara langsung dan tatap muka oleh ibu saya,

Tapi, untuk itu semua, saya tidak boleh bersedih.
Bagaimanapun saya kehilangan momen tersebut, saya sadar bahwa dari atas sana, beliau selalu mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya, putri semata wayangnya. Mungkin saat ini pun beliau sedang menatap saya dengan penuh kasih, menyampaikan doa-doa terbaik untuk saya kepada Tuhan. Bukankah sekarang mama lebih mudah untuk mengucapkan doa itu dibandingkan sebelumnya, karena posisinya yang lebih dekat dengan Tuhan?

Mamaku sayang, selalu sayang padaku, bukan hanya di hari ulang tahun ini saja, tapi setiap harinya, tiada berkurang sedikit pun kasih sayangnya padaku. Terima kasih Tuhan, telah Kau berikan seorang ibu yang baik, yang aku temui pertama kali pada 9 Maret 1992 secara nyata saat aku terlahir ke dunia ini. Terima kasih Tuhan atas umur yang baru, walaupun mama tidak ada secara fisik di sampingku, aku tau, mama selalu mengawasiku bersamaMu. I love you, Mom. Selamat ulang tahun untukku dari mamaku tersayang :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Words in Deep Blue

Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup) Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot 'nya. Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~ Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro .  Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan ke...

Merry Christmas! Walaupun Telat Ngucapinnya... (part 2)

Udah kaya film horor ya, ada part duanya segala. Melanjutkan topik yang kemarin sudah berusaha diangkat, yaitu tradisi di hari raya natal. Saya yakin kalau sebagai umat Katolik pasti tradisi yang sama adalah pergi ke greja, mengikuti misa baik saat Malam Natal maupun hari Natalnya, setelah itu mengucapkan selamat natal kepada orang-orang di sekitarnya, entah kenal entah tidak, sebagai pengingat sukacita Natal dirayakan bersama-sama sebagai bentuk kelahiran Yesus Kristus. Dulu sewaktu mama masih ada, Natal terasa jauh lebih ceria dibanding tahun ini (atau mungkin saya yang sedang tidak bersemangat merayakan apa-apa). Pohon Natal mungkin sudah tidak terpasang, mengingat Pohon Natal yang lama sudah tidak layak pasang dan entah sudah tidak dikertahui rimbanya di mana. Tapi, mama selalu berpesan tiap menjelang natal supaya tidak lupa membeli kue-kue kering untuk dimakan bersama, baik dimakan sendiri atau untuk disajikan saat ada tamu. Semacam perayaan kemenangan bisa bebas ma...

Teruntuk kamu, yang pernah menyimpan hatiku...

Empat bulan sudah terlewati tanpa ada sapaan suara maupun sekedar pesan singkatmu. Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakanmu. Hatiku masih memikirkanmu, asal kamu tahu saja. Tapi, memang itu yang terbaik untuk kita. Maaf kalo aku terkesan egois. Tapi enam tahun aku rasa cukup sudah untuk hubungan kita. Bukan aku tidak pernah berharap kita bisa mengucap janji pernikahan di depan altar, disaksikan kedua orang tua kita, tapi ada satu titik aku tidak mampu lagi menerimamu. Aku memilih melepasmu untuk keegoisanku. Kata orang, cinta itu memberi, bukan menuntut. Dan sekali lagi aku minta maaf karena aku egois. Karena aku tidak mau memberi, aku lebih memilih untuk menuntut kamu setelah kita menjalani LDR. Menuntut perhatian kamu, menuntut pendampinganmu di saat aku sedih, menuntut kamu menjadi pejuang dalam hubungan kita, menuntut kamu tentang masa depan kita. Dan saat kamu akhirnya muak dan tidak dapat memberi jawaban apapun padaku, aku memilih untuk menyudahi apa yang sela...