Langsung ke konten utama

Taman (Hutan) Lampion - Kaliurang

Sabtu - Malam Minggu - 16 Januari 2016

Merupakan malam minggu pertama saya di Jogja pada tahun 2016 yang masih seumur pitik belum siap panen. 

Sesungguhnya, dan sejujurnya, saya orang yang tidak sering jalan pas malam minggu. Ada berbagai pertimbangan yang membuat saya selama ini agak merasa ogah keluar rumah pas malam minggu, antara lain:

1. Posisi rumah saya menuju pusat kota Bogor tidak jauh, tapi apa daya, jalan yang harus dilewati dipastikan akan ramai dengan kendaraan dan kerepotan lalu lintas yang membuat emosi. Membayangkannya saja sudah menurunkan niat untuk keluar. Dan sekedar informasi, menurut saya malam minggu di Jogja juga sama macetnya (atau mungkin lebih parah).

2. Keluar sama siapa coba? Sendirian? kok ya tragis rasanya. Males nyetir sendiri.

3. Minggu pagi merupakan jadwal saya gereja bareng kedua ortu saya. Berhubung saya penganut tidur nyenyak dan waktu tidur yang cukup sangat dibutuhkan untuk kecantikan kulit, aktivitas semacam malam minggu pasti akan mengganggu kegiatan tidur saya. Meh, saya memilih untuk tidur kalau begitu.


Tapiii, entah kenapa pada tanggal 16 Januari saya tergugah untuk keluar kosan, mengarungi lalu lintas Jalan Kaliurang menuju Gardu Pandang Kaliurang di mana sedang diselenggarakan Taman Lampion. Merupakan kerjasama pengelola Kaliurang dengan Taman Pelangi Monjali. Diselenggarakan dari tanggal 10 Desember 2015 hingga 31 Januari 2016 nanti, dari pukul 16.00 sampai 22.00.


Bersama dengan dua wanita yang sudah merantau lebih dulu dari saya ke Jogja, kami pun berangkat dari kosan saya pukul 19.30. Sesudah insiden siang-siang saya terkapar menderita pilek dan demam dan itu sangat tidak keren, malam itu keadaan saya jadi membaik setelah terkena angin Kaliurang yang sejuk (anak gunung kangen rumah). Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, lokasinya terletak di Gardu Pandang Kaliurang. Jadi kalau ada yang mau ke sana dan bingung di mana lokasinya, perhatikanlah petunjuk jalan dengan baik menuju Gardu Pandang. Parkir kendaraan sudah disediakan di bawah lokasi Gardu Pandang, jadi pengunjung harus sedikit berjalan kaki agak menanjak untuk mencapai loket tiket. Parkir motor Rp 3.000,- dan tidak tahu kalau biaya parkir mobil berapa (hehe).

Sebelum masuk, kita harus membeli tiket terlebih dahulu seharga Rp 20.000,-, lalu silahkan masuk menuju hutan lampion yang aduhai romantisnya kalau sama kekasih. 
Sebelumnya ada gapura-gapura gitu dari lampion, tapi ga difoto soalnya rame banget yang mejeng di situ. Silahkan googling kalau penasaran.

Semak belukar lampion kecil-kecil pertama yang terlihat begitu kita masuk ke lokasi. Foto seperti ini sudah banyak di google. (Maafkan kualitas kamera saya yang seadanya saja).



Ni  ya ni payung pake lampu pohon natal sama lampion bentuk hati banyak tersebar di lokasi. Jadi ada keinginan bawa pulang satu aja buat nanti modal ngegombalin pacar. (Modelnya jomblo, kalau berminat bisa kontak saya).

Ada beberapa lampion lainnya, yang sulit untuk difoto karena banyaknya ibu-bapak-mas-mbak-adek-adek-kakek-nenek-om-tante-saudara-saudari yang berpose ala India dan berfoto gila-gilaan.

Selanjutnya dari lokasi bawah kita bisa menuju lokasi yang terletak agak di sebelah atas (dekat Gardu Pandang). Ohya, sebelum ke atas ada beberapa penjual makanan dan minuman, jadi jangan takut haus atau lapar selama menikmati lampu-lampiu indah ini.

Daaaan yang kami dapatkan begitu menuju Gardu Pandang............



Terpesona ku pada pandangan pertamaa~~~ 

Yes! Landscapenya seperti ini. Dan indaaah banget. Gak nyesel udah naik ke atas. Dan saya langsung berpikir : "Ini ga ada yang tiba-tiba dateng terus berlutut mau lamar gw apa? Tempatnya udah romantis dan low budget loh, tapi gak murahan buat lamar anak gadis orang." 

Hmmm..

Saya punya cita-cita bikin cerita FTV, makanya jadi agak suka ngayal sendiri.



Salah satu dari sekian banyak lampion berukuran besar. Ada T-Rex yang ukurannya lebih besar dari ini. Efek foto membuat dino- yang mirip anjing- ini terlihat kecil. (Sekali lagi maafkan kemampuan kamera yang saya miliki).





 Di seberang si Dino-yang mirip anjing- ada lampion batang-batang pohon merunduk sehingga membuat kesan seperti lorong.


I'm sexy and I know it~
Kenapa difoto? Karena dia lebih bohai daripada saya bentuknya sempurna.


Ini tampak depannya The Sexiest Gorilla in da world. Gedenya bikin susah kefoto full. 


Dan ada beberapa lampion lainnya juga. Ada big watermelon, snake, crocodile, bla bla bla, dan saya memilih untuk berfoto dengan Santa. Berharap tahun ini Santa akan berbaik hati memberi saya hadiah natal (Natal masih lama padahal).

Kurang lebih begitulah keadaan di Taman (hutan) Lampion Kaliurang. Semoga hingga akhir pemasangannya nanti, karya-karya ini dapat terjaga bentuknya, tidak dirusak, dan mampu memberi inspirasi bagi para penggiat seni untuk berkreasi. Berhubung kemarin-kemarin saya sempat baca kalau pengunjung taman ini juga (agak) anarkis, sampai menginjak lampu-lampu yang ada, padang lampu diberi batas berupa tali, sehingga pengunjung tidak bebas untuk berfoto di tengah-tengah.

"Lagian, kalau foto di tengah padang lampu gitu ga takut kesetrum apa ya?"

Sekian malam minggu saya untuk tanggal 16 Januari yang lalu. Mungkin untuk malam minggu berikutnya saya hanya akan terdampar di suatu tempat dan tidak jalan-jalan mengingat akhir bulan duit tipis ada bacaan dan tugas yang senantiasa menanti.  


"It's hard to forget someone who give you so much to remember" -Unknown

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Words in Deep Blue

Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup) Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot 'nya. Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~ Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro .  Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan ke...

Merry Christmas! Walaupun Telat Ngucapinnya... (part 2)

Udah kaya film horor ya, ada part duanya segala. Melanjutkan topik yang kemarin sudah berusaha diangkat, yaitu tradisi di hari raya natal. Saya yakin kalau sebagai umat Katolik pasti tradisi yang sama adalah pergi ke greja, mengikuti misa baik saat Malam Natal maupun hari Natalnya, setelah itu mengucapkan selamat natal kepada orang-orang di sekitarnya, entah kenal entah tidak, sebagai pengingat sukacita Natal dirayakan bersama-sama sebagai bentuk kelahiran Yesus Kristus. Dulu sewaktu mama masih ada, Natal terasa jauh lebih ceria dibanding tahun ini (atau mungkin saya yang sedang tidak bersemangat merayakan apa-apa). Pohon Natal mungkin sudah tidak terpasang, mengingat Pohon Natal yang lama sudah tidak layak pasang dan entah sudah tidak dikertahui rimbanya di mana. Tapi, mama selalu berpesan tiap menjelang natal supaya tidak lupa membeli kue-kue kering untuk dimakan bersama, baik dimakan sendiri atau untuk disajikan saat ada tamu. Semacam perayaan kemenangan bisa bebas ma...

Teruntuk kamu, yang pernah menyimpan hatiku...

Empat bulan sudah terlewati tanpa ada sapaan suara maupun sekedar pesan singkatmu. Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakanmu. Hatiku masih memikirkanmu, asal kamu tahu saja. Tapi, memang itu yang terbaik untuk kita. Maaf kalo aku terkesan egois. Tapi enam tahun aku rasa cukup sudah untuk hubungan kita. Bukan aku tidak pernah berharap kita bisa mengucap janji pernikahan di depan altar, disaksikan kedua orang tua kita, tapi ada satu titik aku tidak mampu lagi menerimamu. Aku memilih melepasmu untuk keegoisanku. Kata orang, cinta itu memberi, bukan menuntut. Dan sekali lagi aku minta maaf karena aku egois. Karena aku tidak mau memberi, aku lebih memilih untuk menuntut kamu setelah kita menjalani LDR. Menuntut perhatian kamu, menuntut pendampinganmu di saat aku sedih, menuntut kamu menjadi pejuang dalam hubungan kita, menuntut kamu tentang masa depan kita. Dan saat kamu akhirnya muak dan tidak dapat memberi jawaban apapun padaku, aku memilih untuk menyudahi apa yang sela...