Entah apa yang merasuk pagi ini hingga saya kembali ingin
menulis dan mencurahkan sedikit rasa melalui tulisan ini.
.
*now playing: Payung Teduh – Akad
Pertama kali saya melihat music video Akad, jujur saya menangis (dalam hati, aduh cengeng
banget sih gue). Emang sebagus apa sih ampe nangis? Lebih
baik kalian lihat sendiri daripada saya spoiler di sini 😊
Bukannya saya sudah pernah melewati prosesi akad atau
melalui perjalanan seperti yang diceritakan MV tersebut, yang membuat saya
menangis adalah cerita tentang si tokoh utama yang entah kenapa rasanya seperti
melihat Bapak saya sendiri. Seolah-olah itu kisah beliau, kisah yang dilalui
beliau waktu bersama mama. Sedikit berangan-angan, mungkin begitulah dulu Bapak
melamar Mama di kota Yogyakarta ini semasa masih muda, menikah, lalu berjuang
membina keluarga hingga akhirnya salah satu dari mereka harus pergi duluan karena
Tuhan berkehendak demikian.
Saya belum pernah melalui proses itu. Kalau boleh berharap,
saya ingin dilamar dengan lagu Akad – Peyung Teduh. Walaupun orangnya tidak romantis,
dengan lagu itu saja pasti jadi romantis. (ciee kodee, padahal jomblo~~)
Berbicara mengenai akad, berbicara mengenai pernikahan. Saya
sudah memasuki usia yang memenuhi syarat untuk menikah, jadi wajar apabila sering
terdengar pertanyaan handai taulan dengan kalimat yang tersusun seperti ini:
‘Mana calonnya? Kapan nikah?’
Atau kalau lagi
menghadiri pernikahan sanak saudara, maka para ibu-ibu akan dengan muka (sok)
manis menengok ke saya, berharap mendapat jawaban pasti, lalu akan bertanya:
‘Kalau kamu kapan nyusulnya?’
(Ya Tuhan, hambaMu
hanya manusia lemah, jangan biarkan iblis meloloskan jawaban jutek yang
terpikirkan melalui bibir saya)
Saya tidak pernah punya jawaban
bagus untuk pertanyaan seperti ini. Pada akhirnya saya akan selalu bertanya,
apakah sesuatu yang aneh apabila saya memilih untuk tidak menikah? Mengabdikan diri
saya untuk sesuatu yang saya sukai. Karena jujur, saya sering bertanya-tanya,
apakah pernikahan itu menyenangkan? Hidup bersama satu pasangan hingga akhir
hayat nanti? Apakah rasa cinta yang akan bertahan atau hanya sekedar rasa ‘dia
memang ada untuk menemani saya, tidak apa tidak cinta lagi, tapi saya tidak bisa
kalau dia tidak ada’.
Menurut kesaksian beberapa orang
yang sudah lumayan lama menikah dan mau berbagi pengalaman dengan saya, jawabannya
adalah yang kedua. Yang mereka tahu bukan lagi cinta, tapi karena sosok
pasangannya itu sendiri memang sudah menyatu dalam hidup mereka.
Mungkin itu juga yang dirasakan
oleh orang tua saya. Bukan karena cinta lagi Bapak menangis di saat Mama pergi
meninggalkan kami. Tapi karena Bapak sadar, di saat Mama menutup mata, saat itu
juga kehidupannya akan berubah. Ibaratnya, sistem peredaran dalam dunia Bapak
berubah, ada yang hilang dan akan berbekas dan mungkin sampai kapanpun tidak
akan pernah sembuh.
Jadi, apakah ini mungkin menjadi
bagian yang nantinya akan terasa sangat berat dalam suatu pernikahan. Dan,
bukannya menakutkan untuk merasakan pernikahan apabila pada akhirnya kita harus
mengalami hal sesakit itu?
Di sisi lain banyak kisah
pernikahan yang lebih luar biasa menurut saya. Saat salah satu dari calon
pengantin didagnosa menderita penyakit mematikan dengan usia yang diprediksi
tidak lama lagi, bukankah sewajarnya kalau pasangan lainnya meninggalkannya dan
tidak melanjutkan pernikahan? Nyatanya, mereka tetap menikah dengan mengetahui
resiko mengalami rasa sakit di masa depan itu.
Jadi, apakah esensi suatu pernikahan
apabila di ujung nanti kita harus merasakan sakit karena kehilangan? Apakah
rasa sakit itu seimbang dengan kebahagiaan yang diperoleh selama masa
pernikahan?
Ah entahlah, saya jadi pusing
sendiri. Mungkin memang tetap lebih baik menikah untuk menghindari konflik.
Terutama konflik dari pihak luar. Karena kita hidup di dunia tidak hanya
sendiri. Apabila kamu ingin bertahan di tengah badai konflik ini, bukankah
lebih baik kalau ada penopang dan teman untuk menghadapinya?
PS. Tapi saya sadar, di kala
nanti waktunya sudah tiba, akan ada waktu di mana kita akan lebih bahagia
menghabiskan waktu bersama seseorang yang sudah pasti mau berbagi dengan kita
bukan sekedar suka duka, tapi juga segala sesuatu dan menyatukan kehidupan,
berbagi cita-cita bersama dan mewujudkannya bersama. Hidup tidak selamanya bisa
bahagia kalau kita hanya berkumpul dan berhaha-hihi
dengan teman semasa sekolah dan kuliah bukan? Apalagi kalau nyatanya mereka
memilih meninggalkan kita juga demi keluarga mereka masing-masing.
Komentar
Posting Komentar