Langsung ke konten utama

Mengeluarkan Pendapat Untuk 'Dia'

Selamat malam. Akhirnya saya tidak bisa tidur padahal sudah dicoba dengan bolak-balik badan dan memejamkan mata. Saya menyerah. Sepertinya ada baiknya menulis apa yang terlintas di pikiran saya.

Beberapa minggu lalu saya bertemu seorang pria melalui salah satu social media yang saya miliki. Akhirnya saya dan pria tersebut bertemu a.k.a kopi darat dan melakukan sedikit trip ke beberapa tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya melalui aplikasi chatting.

Tapi, saat ini bukan perjalanan itu yang ingin saya ceritakan di sini.

Pada beberapa kesempatan selama perjalanan tersebut, pria tersebut beberapa kali sempat mengungkapkan beberapa kebiasaan saya yang dianggapnya kurang baik, dan hal itu terkait penampilan fisik. Dia tidak protes ataupun berusaha mengatur saya, hanya sedikit berpendapat yang (mungkin) malah membuat saya jengah. Sedikit berpikir, ‘siapa ni orang dah berani berpendapat gitu soal kebiasaan gw dan fisik gw?’. Tapi, sudah jelas saya tidak mengatakan hal itu pada yang bersangkutan. Rasanya tidak etis mengungkapkan pernyataan nyeleneh seperti itu di saat pertama kali bertemu.

Mendengar pendapat seperti itu dari seorang pria yang baru saya kenal, membuat saya berpikir mengenai cerita salah satu teman saya. Tidak jarang teman saya ini menceritakan beberapa protes yang suka dilontarkan oleh kekasihnya. Namun, saat dia curhat, dia tidak menunjukkan kekesalan ataupun mengeluarkan mekanisme pertahanan diri untuk menangkis perkataan pacarnya tersebut. –penulis sedang terpengaruh film kolosal—

Berkaca dari hal tersebut, saya jadi mengenang kembali masa dulu saat saya masih bersama dia. Yap, sang mantan kekasih. *gak galau kok, cuma inget doank*

Dia jarang protes mengenai penampilan fisik saya. Bahkan lebih sering memuji saya. Entah bermaksud untuk membuat saya senang, atau dia sebenarnya malas melihat saya malah menentang habis-habisan kalau dia sudah berpendapat. Berhubung saya orang yang keras kepala, bebal, ga mau dikasi tau, dan malah suka marah-marah kalau dikasi tau, saya rasa lebih cocok kalau alasannya adalah yang kedua. Malas kalau bertengkar hanya karena alasan sepele.

Tapi kenapa kemarin saya malah tidak marah-marah? Kemungkinan besar saya mencoba untuk jaga image. ‘Kan gak lucu kesan pertemuan pertama langsung jelek kalau saya marah-marah…

Nah, lalu otak saya yang kadang sok bijaksana ini mengeluarkan beberapa pertanyaan yang tampaknya lumayan seru untuk jadi refleksi diri.

‘Kalau orang berpendapat kenapa harus membalasnya dengan marah-marah? Kenapa harus mengeluarkan defense paling maksimal untuk menangkisnya? Terlebih lagi apabila yang memberi pendapat tersebut orang yang memang kenal dan dekat dengan kita. Memangnya mereka mengeluarkan pendapat mereka dengan marah-marah dan menyerang? Memangnya mereka bermaksud untuk menjatuhkan kita dengan pendapat itu?’

Kira-kira seperti itu pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak saya.

Ya. Sebenarnya orang yang kenal dengan kita yang mempunyai hak untuk megeluarkan pendapat. Terlepas dari niatnya untuk mengatur atau tidak, tapi karena mereka sayang dan peduli makanya mereka berpendapat dan mengutarakannya kepada kita yang adalah objek yang selalu diperhatikannya. Tapi sering kali sebagai objek yang diberikan pendapat, kita malah marah, kesal, melawan apa pendapat mereka. Kenapa sampai seperti itu? Siapakah yang salah di sini? Apakah si penyampai pendapat atau si penerima pendapat?

Kita dapat mengatakan yang salah adalah si pemberi apabila cara menyampaikannya tidaklah sesuai dengan norma-norma keadilan dan kedamaian dalam masyarakat. Semisal, si pemberi mengutarakan pendapat dengan cara marah-marah, jelas bikin kesal bukan? Atau yang paling sering mungkin dialami oleh orang-orang belakangan ini. Saat pemberi mengutarakan pendapatnya dengan cara mengejek, melakukan bullying, menghasut orang lain berpikir sama dengannya, lalu malah menjatuhkan mental si penerima. Itu jelas salah, dan kita bia menuntut atas perbuatan mereka.

Lalu bagaimana seandainya si pemberi sudah menerapkan norma keadilan dan kedamaian dalam menyampaikan pendapat tetapi si penerima malah melakukan perlawanan lalu malah sakit hati? Melakukan perlawanan itu wajar, karena manusia memiliki prinsip yang berbeda-beda. Tidak semua pendapat orang lain sejalan dengan prinsip yang kita jalani. Namun kalau sampai sakit hati, bukankah itu sudah di luar logika? Nyatanya orang yang mengeluarkan pendapat tentang kita (dengan alasan baik dan tidak bermaksud untuk menyerang) tentunya adalah orang yang peduli dengan kita. Mereka adalah orang-orang yang ingin berbaik hati menyelaraskan hidup kita. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mengingatkan kita untuk kembali ke cara hidup yang benar di saat terkadang kita khilaf dan malah berbelok menuju kesesatan. *ngomong sama diri sendiri*

Semakin saya pikir, orang yang berani berpendapat tentang diri kita merupakan orang yang harus kita jaga relasinya. Kenapa? Sekali lagi saya tegaskan, mereka adalah orang yang peduli dengan kita. Terkadang mekanisme pertahanan diri kita memang keluar secara otomatis. Sifat manusia yang keras kepala dan merasa dirinya makhluk paling mulia mengakibatkan kita suka bertahan dari sesuatu yang sebenarnya bukanlah suatu serangan, tapi kita menerjemahkannya sebagai serangan karena kemampuan manusia menafsirkannya ke berbagai macam perasaan.

Coba dipikir, seandainya orang yang kita sayang tidak mau mengeluarkan pendapatnya tentang kita? Apakah kita tahu bahwa seseorang itu benar-benar peduli pada kita atau tidak?

Dan sebagai seseorang yang berakhlak dan berpikiran mulia, bisakah kita mulai menelaah sikap kita dalam mengeluarkan dan menerima pendapat dari orang lain? Tidak semua pendapat bertujuan menjatuhkan kita. Bisa saja maksudnya baik, namun sayangnya kita lebih memilih untuk menutup hati kita untuk melihat kebenaran di balik pendapat tersebut. *lagi-lagi ngaca ke diri sendiri*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Words in Deep Blue

Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup) Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot 'nya. Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~ Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro .  Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan ke...

Merry Christmas! Walaupun Telat Ngucapinnya... (part 2)

Udah kaya film horor ya, ada part duanya segala. Melanjutkan topik yang kemarin sudah berusaha diangkat, yaitu tradisi di hari raya natal. Saya yakin kalau sebagai umat Katolik pasti tradisi yang sama adalah pergi ke greja, mengikuti misa baik saat Malam Natal maupun hari Natalnya, setelah itu mengucapkan selamat natal kepada orang-orang di sekitarnya, entah kenal entah tidak, sebagai pengingat sukacita Natal dirayakan bersama-sama sebagai bentuk kelahiran Yesus Kristus. Dulu sewaktu mama masih ada, Natal terasa jauh lebih ceria dibanding tahun ini (atau mungkin saya yang sedang tidak bersemangat merayakan apa-apa). Pohon Natal mungkin sudah tidak terpasang, mengingat Pohon Natal yang lama sudah tidak layak pasang dan entah sudah tidak dikertahui rimbanya di mana. Tapi, mama selalu berpesan tiap menjelang natal supaya tidak lupa membeli kue-kue kering untuk dimakan bersama, baik dimakan sendiri atau untuk disajikan saat ada tamu. Semacam perayaan kemenangan bisa bebas ma...

Teruntuk kamu, yang pernah menyimpan hatiku...

Empat bulan sudah terlewati tanpa ada sapaan suara maupun sekedar pesan singkatmu. Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakanmu. Hatiku masih memikirkanmu, asal kamu tahu saja. Tapi, memang itu yang terbaik untuk kita. Maaf kalo aku terkesan egois. Tapi enam tahun aku rasa cukup sudah untuk hubungan kita. Bukan aku tidak pernah berharap kita bisa mengucap janji pernikahan di depan altar, disaksikan kedua orang tua kita, tapi ada satu titik aku tidak mampu lagi menerimamu. Aku memilih melepasmu untuk keegoisanku. Kata orang, cinta itu memberi, bukan menuntut. Dan sekali lagi aku minta maaf karena aku egois. Karena aku tidak mau memberi, aku lebih memilih untuk menuntut kamu setelah kita menjalani LDR. Menuntut perhatian kamu, menuntut pendampinganmu di saat aku sedih, menuntut kamu menjadi pejuang dalam hubungan kita, menuntut kamu tentang masa depan kita. Dan saat kamu akhirnya muak dan tidak dapat memberi jawaban apapun padaku, aku memilih untuk menyudahi apa yang sela...