Langsung ke konten utama

Katakan Tidak pada Peminta-Minta



Apa renunganmu yang terlintas pagi ini?

Kebetulan kalau saya memiliki banyak hal yang terlintas. Tapi ada yang menarik untuk saya pagi ini.

Saya saat ini berada di sebuah café di kota Bogor. Ya saya sudah sampai lagi di Bogor, setelah sekian lama (yang gak lama-lama banget) di Yogyakarta.

Saat sedang asik-asiknya berkencan dengan laptop, mendengar Payung Teduh (playlist favorit saat ini) sambal menyesap kopi, lalu tiba-tiba masuk seorang customer lainnya.
Dan dia ternyata adalah………

Saya ga tau siapa, jadi biarin aja deh… (ini ga penting, sangat tidak penting, dan memang tidak ada faedahnya).

Ada seorang ibu, atau lebih tepat disebut nenek-nenek. Sudah renta, kebetulan membawa beberapa keset kaki. Mungkin jualan, walaupun dari penampilan lebih terlihat seperti (maaf) peminta-minta. Kebetulan saat ini ada beberapa customer di café. Satu orang yang juga sibuk berkencan dengan laptopnya di meja sebelah kiri saya, dan dua orang yang terdiri dari seorang ibu yang terlihat high maintenance punya dan seorang laki-laki. Cukup sering saya bertemu ibu ini di café ini. Dari beberapa kali saya bertemu dengannya, yang saya tahu ibu ini adalah seorang PNS di Pemkot Bogor.

Lalu apa hubungannya nenek renta tadi dengan ibu PNS ini? Tidak ada hubungannya karena mereka bukan keluarga. Oke, garink. Lupakan.

Sesaat saya melihat nenek renta ini, jujur saya hanya duduk melihat reaksi dari para customer dan barista yang ada di café ini. Saya memiliki stereotype yang buruk terhadap ibu-ibu berpenampilan ala sosialita. Menurut saya seorang ibu yang bergaya, berambut ala bule, bermake up lumayan dempul, dan berbicara ala “I’m the boss here!” bukanlah seseorang yang murah hati. Dan kemungkinan besar, manusia tipe ini hanya akan memandang rendah nenek renta yang sedang berusaha menjual keset yang mungkin tidak setipe dengan yang berada di depan pintu kamar mandi rumahnya.

Atau, skenario lainnya, ibu sosialita hanya akan berusaha terlihat sebagai orang dermawan dengan memberi uang pada nenek renta, bersikap seolah dia adalah orang paling dermawan karena mau meberikan uang secara cuma-cuma, padahal dia yang sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang tersebut.

Nyinyir ya pikiran saya? Tapi pada umumnya memang seperti itu yang saya temui.

Kenyataan berbicara lain. Ibu PNS sosialita ini sedang asik berbincang dengan temannya saat nenek renta ini datang dan berusaha membujuk seseorang untuk membeli kesetnya (akhirnya, keset itu tidak dibeli dan seseorang ini hanya memberi uang begitu saja). Saya pikir, Ibu PNS ini tidak akan menotice sang nenek renta, hingga akhirnya beliau bangkit berdiri, sedikit tergesa keluar café, dan menghampiri nenek renta ini.

Apakah dia akan memberi uang begitu saja seperti pemikiran saya?

Ternyata tidak, beliau membeli keset yang dijual nenek renta itu. Dia tidak mau memberi uang secara percuma. Dia memilih untuk membeli jualan nenek renta itu. Lumayan banyak jumlah yang dibelinya, enam buah (mungkin memang kamar mandi di rumahnya ada tiga ditambah pintu yang menuju halaman ada tiga, jadi jumlahnya pas enam). Keset-keset tersebut dibeli sesuai harga yang disebutkan nenek itu , tanpa ditawar atau dilebihkan jumlahnya oleh Ibu PNS.

Ternyataaa, dugaan saya kali ini salah. Dan saya setuju dengan apa yang dilakukan ibu itu.

Saya bukan orang yang suka memberi pada peminta-minta yang berada di pinggir jalan. Saya berprinsip, orang seperti itu lebih baik tidak diberikan uang begitu saja. Itu bukan suatu profesi, itu merupakan suatu cara merendahkan dirinya sendiri dengan menjadi peminta dari orang lain, dan saya tidak mau menjadi salah seorang yang dengan senang hati membantu mereka merendahkan diri mereka sendiri. Beda soal kalau seseorang itu berjualan seperti nenek tadi. Saya lebih memilih untuk membeli barang dari mereka yang berjualan (walaupun kadang bingung dengan harga yang dipatok antara mau meres atau emang harganya semahal itu ---ini salah satu hal buruk lainnya yang ada di masyarakat Indonesia---).

Dan ini yang menjadi salah satu topik yang sangat ingin saya angkat di kala berbincang dengan teman-teman saya. Apakah pantas apabila kita berbaik hati, memberi uang secara cuma-cuma dengan orang yang meminta-minta di pinggir jalan? Lalu apabila ada orang yang terlihat serupa tapi memilih untuk berjualan, bukan meminta-minta, malah dilewatkan begitu saja? Mental yang salah menurut saya kalau seperti itu adanya.

Kalau urusan memberi secara cuma-cuma, harusnya tidak dilakukan untuk orang-orang di pinggir jalan tersebut. Memberi secara cuma-cuma seperti itu hanya akan membuat kita layaknya orang berdosa juga bukan? Kita turut ambil bagian untuk merendahkan diri mereka. Selain itu, perbuatan itu sama sekali tidak mendidik, hanya mengajarkan mereka kenikmatan tanpa ada usaha sama sekali. Tuhan tidak menghendaki kita manusia menjadi makhluk pemalas yang hanya menerima nikmatnya dunia begitu saja. Bukankah kita selalu dituntut untuk berusaha dan berdoa agar dapat mencapai apa yang kita inginkan?

Lagipula, kalau berminat untuk memberi secara cuma-cuma bukankah ada banyak lembaga non-profit yang siap membantu menyalurkan sebagian rejeki kita pada mereka yang membutuhkan? Tidak perlulah kita memberi secara sembarangan pada mereka yang hanya bertampang sedih di pinggir jalan hanya untuk menunjukkan kita baik hati. Baik hati itu tidak perlu diumbar, cukup diimani dan dilakukan saja. 

Jadi, ini yang ingin saya katakan melalui tulisan ini. Stop menjadi orang muda yang mau terus berdosa dengan memberi pada tempat yang salah. Refleksikan juga hal itu pada diri kita sendiri. Stop menjadi sama dengan orang yang suka memita-minta. Sekalipun kita tidak meminta-minta di pinggir jalan, hal ini secara tidak sadar sering kita lakukan juga di lingkungan kita sendiri, entah dalam lingkungan kerja, kuliah, ataupun sekolah. Berusahalah, dan jangan lupa berdoa. Kodrat manusia sudah ditentukan dan tentunya Tuhan tidak akan tinggal diam melihat apa yang telah kita lakukan.

*tulisan kali ini entah darimana inspirasinya, dan entah saya kerasukan apa hingga mau menulis topik seperti ini*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Words in Deep Blue

Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup) Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot 'nya. Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~ Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro .  Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan ke...

Teruntuk kamu, yang pernah menyimpan hatiku...

Empat bulan sudah terlewati tanpa ada sapaan suara maupun sekedar pesan singkatmu. Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakanmu. Hatiku masih memikirkanmu, asal kamu tahu saja. Tapi, memang itu yang terbaik untuk kita. Maaf kalo aku terkesan egois. Tapi enam tahun aku rasa cukup sudah untuk hubungan kita. Bukan aku tidak pernah berharap kita bisa mengucap janji pernikahan di depan altar, disaksikan kedua orang tua kita, tapi ada satu titik aku tidak mampu lagi menerimamu. Aku memilih melepasmu untuk keegoisanku. Kata orang, cinta itu memberi, bukan menuntut. Dan sekali lagi aku minta maaf karena aku egois. Karena aku tidak mau memberi, aku lebih memilih untuk menuntut kamu setelah kita menjalani LDR. Menuntut perhatian kamu, menuntut pendampinganmu di saat aku sedih, menuntut kamu menjadi pejuang dalam hubungan kita, menuntut kamu tentang masa depan kita. Dan saat kamu akhirnya muak dan tidak dapat memberi jawaban apapun padaku, aku memilih untuk menyudahi apa yang sela...

9 Maret 2017 - tulisan yang tertunda untuk diselesaikan

Selamat hari Kamis. Selamat beraktifitas. Dan hari itu kebetulan saya ulang tahun. Di hari ulang tahun saya, saya lebih memilih untuk kembali ke kota pelajar, daripada diam saja di rumah dan menanti ucapan selamat dari handai taulan saya. Apa yang saya ingat di hari ulang tahun biasanya? Entah. Saya ingat mama di pagi hari tadi, begitu saya membuka mata pukul 5 pagi. Ulang tahun memang selalu terjadi tiap tahun, tapi tahun ini menjadi tahun yaang... Hmmmm... Apa harus dikatakan istimewa atau tidak? Tidak, tidak istimewa. Menurut saya. Pagi ini. Selama 24 tahun ke belakang, mama menjadi orang pertama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun di antara anggota keluarga saya. Mungkin begitulah adanya seorang ibu, selalu mengingat ulang tahun putra putrinya. Pada dasarnya keluarga saya bukanlah keluarga yang suka merayakan ulang tahun dengan cara yang dibesar-besarkan, sekedar ucapan selamat ulang tahun dan makan bersama di luar. Lalu,bagaimana mama menjadi kenangan pertam...