Langsung ke konten utama

AKU PANIK!

Karena 

pada pukul 00.38 detik ke 43 saya memutuskan untuk update IG Story, yang isinya....


Yang ternyata mampu memancing rasa penasaran beberapa orang yang menyaksikan. Mengusik sanubari terdalam mereka, hingga memutuskan untuk me-Whatsapp saya dan menanyakan apa yang membuat saya panik.

"Kenapa panik, Ngel? Ada apa? Besok sidang?"

Saya:

Sidang 'pale lu, pertanyaan yang terlalu terang-terangan seperti itu bikin pengen banting hape.

Sebel banget rasanya yang ditanyain malah itu. Iya sih saya panik terkait sidang, tapi bukan karena besok sidang, lebih karena 'gak tau kapan bakal sidang.
Selain perkara sidang, sebenarnya ada perkara-perkara lain yang bisa jadi alasan bagus untuk membuat panik. antara lain:

1. Masih tanggal 12 Februari, tapi duit udah abis. Tanda-tanda kiamat isi dompet sudah terlihat, sudah mulai harus dipikirkan bagaimana cara paling praktis untuk bertahan hidup hingga bulan depan.

2. Kenapa waktu cepat sekali berlalu? Kenapa hari ini udah tanggal 12 Februari, padahal tesis saya 'gak jelas kapan kelarnya karena saya masih males ngerjain.

3. Isi group Konco Tambel Butuh penuh dengan bahasan unyu sweet semacam: 'Ugh, gw kangen lu ngel, gw kangen lu nel, pengen main bareng' (Onye), 'samaaa, gw juga kangen lu ngel, gw kangen onye, kangen ejra, kangen satrio, kangen main.' (Onel), dan saya bales kangen-kangenannya mereka dengan 'oooh, gw gak kangen kalian.' Topik unyu-unyu sweet selesai, mereka kecewa dengan tanggapan saya, jadi ganti topik dengan bahas cowok.

Kok bisa ya saya gak kangen mereka?
4. Saya panik, takut jatuh cinta.




Poin terakhir aneh ya? Panik kok gara-gara takut jatuh cinta..... Aneh lu, Ngel!

Saya sadar saya tipe orang yang mudah jatuh cinta, apalagi sama orang yang bisa bikin saya ketawa-ketawa mules. Dijamin saya nyaman terus jatuh cinta.

Jatuh cinta ituuuuu........
rasanya menyenangkan......

Tapi kalo sama-sama berbalas, kalo enggak?
Kalo ternyata diPHPin doank? Ternyata cuma difriendzone doank?
Atau kalau ternyata sama-sama berbalas, tapi ada halangan di antara kalian. Halangannya sulit untuk begitu saja dilewati pulak. 'Gmana tuh? Bisa bikin hilang nafsu makan kalo 'dah gitu.

Ya, sebenernya saya bukan takut jatuh cintanya. Tapi saya trauma dengan sakit hati yang saya rasakan berkali-kali di tahun 2017. Capek, ogah diulang-ulang mulu, dan nyatanya emang nyaman dengan kesendirian seperti ini, gak berasa sakit apa-apa.

Tapi biasanya, kalau saya mulai curhat ke temen-temen perihal takut jatuh cinta, ujung-ujungnya mereka akan bilang:

JANGAN JADI PENGECUT DONK, NGEL!


ya kali ah!!
belum aja lu rasain di posisi gue 'gimana!

Rasanya selalu ingin balas berteriak seperti itu kalau mereka sudah mulai berteori.

Rasa sakit karena patah hati benar-benar tak terdefinisikan. Walaupun kata orang-orang sakit gigi lebih parah dibanding sakit hati, saya tetap lebih memilih bermain aman. Kalo bisa dihindari kenapa mesti dilawan sih? Kalau emang harus belok kiri biar jalan hidup lebih mudah untuk mencapai tujuan, ya saya pilih belok kiri walaupun jalannya lebih jauh daripada jalan lurus berlubang-lubang tadi.

Mencintai itu mudah buat saya, tapi bertahan dengan sisa-sisa hati kalau nantinya kecewa...... saya 'gak yakin masih sanggup. 

Dan saat ini, saat ada seseorang yang lagi-lagi mencoba mendekati entah dengan tujuan apa, saya panik. Saya panik kalau nanti saya keburu ge-er, keburu nyaman, keburu jatuh cinta, lalu berujung sakit hati... Karena saya tidak menulis 'belajar menghadapi sakit hati lagi' jadi resolusi di tahun 2018... 

  Saya panik......................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Words in Deep Blue

Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup) Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot 'nya. Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~ Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro .  Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan ke...

Merry Christmas! Walaupun Telat Ngucapinnya... (part 2)

Udah kaya film horor ya, ada part duanya segala. Melanjutkan topik yang kemarin sudah berusaha diangkat, yaitu tradisi di hari raya natal. Saya yakin kalau sebagai umat Katolik pasti tradisi yang sama adalah pergi ke greja, mengikuti misa baik saat Malam Natal maupun hari Natalnya, setelah itu mengucapkan selamat natal kepada orang-orang di sekitarnya, entah kenal entah tidak, sebagai pengingat sukacita Natal dirayakan bersama-sama sebagai bentuk kelahiran Yesus Kristus. Dulu sewaktu mama masih ada, Natal terasa jauh lebih ceria dibanding tahun ini (atau mungkin saya yang sedang tidak bersemangat merayakan apa-apa). Pohon Natal mungkin sudah tidak terpasang, mengingat Pohon Natal yang lama sudah tidak layak pasang dan entah sudah tidak dikertahui rimbanya di mana. Tapi, mama selalu berpesan tiap menjelang natal supaya tidak lupa membeli kue-kue kering untuk dimakan bersama, baik dimakan sendiri atau untuk disajikan saat ada tamu. Semacam perayaan kemenangan bisa bebas ma...

Teruntuk kamu, yang pernah menyimpan hatiku...

Empat bulan sudah terlewati tanpa ada sapaan suara maupun sekedar pesan singkatmu. Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakanmu. Hatiku masih memikirkanmu, asal kamu tahu saja. Tapi, memang itu yang terbaik untuk kita. Maaf kalo aku terkesan egois. Tapi enam tahun aku rasa cukup sudah untuk hubungan kita. Bukan aku tidak pernah berharap kita bisa mengucap janji pernikahan di depan altar, disaksikan kedua orang tua kita, tapi ada satu titik aku tidak mampu lagi menerimamu. Aku memilih melepasmu untuk keegoisanku. Kata orang, cinta itu memberi, bukan menuntut. Dan sekali lagi aku minta maaf karena aku egois. Karena aku tidak mau memberi, aku lebih memilih untuk menuntut kamu setelah kita menjalani LDR. Menuntut perhatian kamu, menuntut pendampinganmu di saat aku sedih, menuntut kamu menjadi pejuang dalam hubungan kita, menuntut kamu tentang masa depan kita. Dan saat kamu akhirnya muak dan tidak dapat memberi jawaban apapun padaku, aku memilih untuk menyudahi apa yang sela...