Langsung ke konten utama

Pesan Moral Karena Neduh di Burjo

Barusan terjebak di Burjo deket kosan karena tiba-tiba hujan datengnya kaya tawuran.
Lalu, aktivitas apa yang saya lakukan untuk membunuh waktu?

1. berdoa kepada Yang Mahakuasa meminta hujannya berhenti sekitar 2 menit 32 detik supaya saya bisa lari ke kosan, (tidak terkabul, malah dateng badai)

2. ngobrol sama teteh burjo, basa basi masalah Yogya yang kemarin panasnya kaya mau bikin jemuran garing kaya kerupuk, (gak bertahan lama, karena gak ada topik lagi)

3. nonton tivi burjo (tapi kesel soalnya yang dipasang ftv dan ga menemukan remote untuk mengganti ke channel lain)

4. mandangin hujan dan mendengar rintik hujan, (atau lebih tepatnya bukan rintik, tapi gemuruh seng-seng rumah karena diterpa angin badai)

5. buka FB - tutup - buka IG - liat profile sendiri - terus ngeclick link blog yang tercantum di about me - baca postingan-postingan lama.

Dan sekali lagi.
Saya menyadari.
Kemampuan saya.
Untuk memenuhi komitmen.

Sangat rendah...... 

*nangis di bawah shower*
*trus baru inget kosan ga ada shower*
*ga jadi nangis*

----------------------------------------------------------------------

Sementara hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, saya sibuk mencermati tulisan-tulisan tersebut, memposisikan diri sebagai reader yang tidak tau keadaan saya yang sebenarnya. Kemudian saya menarik kesimpulan,

"Ternyata gue kalo nulis content kaya gini yah.
Kadang isinya sedih banget, kadang isinya sok motivator,
kadang berusaha lucu tapi gak lucu."

"Tapi kok bisa-bisanya ya kalo gue lagi kecewa malah berusaha sok kuat?
Jadinya gak asik, tulisannya kaku kaya kanebo kering."


Iya, berasa kaya kanebo kering, kaku, ga enak dipake.....,

SAD, SEDIH

Ya, beda sama dua blog lainnya yang emang fokus bahas buku atau travelling, blog yang satu ini lebih fokus sama daily life dan pikiran-pikiran penting -- ga penting -- ujung ujungnya semua gak penting -- yang mungkin jatohnya membuat saya terlihat kaya orang labil. Kadang seneng, kadang sedih, kadang gak jelas (dan emang lebih banyak gak jelasnya), dan kadang kaku. 

APA COBA KONDISI KAKU??

Menurut dugaan saya, itu adalah keadaan di mana saya sebenarnya cukup kecewa dengan beberapa kejadian sehingga saya memiliki kehendak untuk mencurahkannya dalam bentuk tulisan. Keinginan saya untuk bercerita sangat kuat, tapi di sisi lain gak mau terlihat cengeng histeris kaya orang yang kelingking kakinya abis kepentok sudut sofa.


   


Padahal sakit, tapi sok tegar, jadinya ya gitu... 




Terus apa gunanya donk nulis kalo gak lepas ya? Biar aja dikata labil, biar aja dikata cengeng, lagian sebenernya reader juga belum tentu berbicara seperti itu. Hey, topik yang bisa dipikirkan udah banyak tanpa harus sibuk mikirin apa tanggapan orang lain. Kasian hati kalau cuma ditumpukin sama hal-hal semacam 'apa nanti kata orang'.



Dan ini juga yang membuat saya memutuskan untuk berhenti sok berpura-pura tegar kalau lagi curhat lewat tulisan. Sibuk mikirin content dan tanggapan orang lain, padahal tujuan awalnya bukan untuk bahan jurnalistik, 'ngapain jugakan ya?
Just let it flow. Apa yang dirasakan, itu yang ditulis.
Apa yang diomongin orang, kalo bagus, membangun, dan membantu tentunya patut untuk diperhatikan, kalau enggak, ya udah, anggep aja itu angin silir semilir panas dingin ga jelas gitu... 

Pesan moral: 
sudah menjadi salah satu kebiasaan khalayak manusia untuk membicarakan tentang orang lain, dan mostly yang diomongin bukan hal yang baik-baik. Kalau kita terlalu sibuk memikirkan apa kata orang-orang tersebut, kapan lagi waktu untuk berkarya dan membuat kita menjadi pribadi yang berbeda dari mereka? Memang tidak baik kalau kita benar-benar tidak memperhatikan apa tanggapan orang lain terhadap kita, tapi yang cukup berarti dari sekian banyak omongan itu jumlahnya sedikit, cukup disaring yang baik dan membantu membangun diri kita saja. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Words in Deep Blue

Words in Deep Blue ini buku. Well, inspirasi nulis kali ini kebetulan datang dari buku yang baru beres gue baca. Gue bukan berminat bikin resensi buku itu di sini. Kalau resensi jelas ada di blog sebelah ya ---> akubukudancerita.blogspot.co.id (promosii yak teuteup) Rasanya ada yang salah ya gue malah menulis topik lain saat masalah bom di Surabaya lagi hot-hot 'nya. Tapi itu nanti dulu deh, gue juga pasti akan menuliskan kesan gue tentang berita-berita itu, tapi berhubung gue masih menunggu berita-berita yang berkembang mengenai bom tersebut, gue bakal post tulisan itu lain kali saja~ Gue bakal mengulas sedikit tentang buku ini dulu sebagai intro .  Alkisah Rachel seorang gadis yang tidak lulus kelas 12 kembali ke kota asalnya. Cal, saudaranya meninggal tenggelam di laut. Sulit baginya untuk kembali karena ada kemungkinan dirinya bertemu kembali dengan Henry, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang tidak berbalas. Pada awal cerita, Rachel sangat menyembunyikan ke...

Merry Christmas! Walaupun Telat Ngucapinnya... (part 2)

Udah kaya film horor ya, ada part duanya segala. Melanjutkan topik yang kemarin sudah berusaha diangkat, yaitu tradisi di hari raya natal. Saya yakin kalau sebagai umat Katolik pasti tradisi yang sama adalah pergi ke greja, mengikuti misa baik saat Malam Natal maupun hari Natalnya, setelah itu mengucapkan selamat natal kepada orang-orang di sekitarnya, entah kenal entah tidak, sebagai pengingat sukacita Natal dirayakan bersama-sama sebagai bentuk kelahiran Yesus Kristus. Dulu sewaktu mama masih ada, Natal terasa jauh lebih ceria dibanding tahun ini (atau mungkin saya yang sedang tidak bersemangat merayakan apa-apa). Pohon Natal mungkin sudah tidak terpasang, mengingat Pohon Natal yang lama sudah tidak layak pasang dan entah sudah tidak dikertahui rimbanya di mana. Tapi, mama selalu berpesan tiap menjelang natal supaya tidak lupa membeli kue-kue kering untuk dimakan bersama, baik dimakan sendiri atau untuk disajikan saat ada tamu. Semacam perayaan kemenangan bisa bebas ma...

Teruntuk kamu, yang pernah menyimpan hatiku...

Empat bulan sudah terlewati tanpa ada sapaan suara maupun sekedar pesan singkatmu. Bohong kalau aku bilang aku sudah melupakanmu. Hatiku masih memikirkanmu, asal kamu tahu saja. Tapi, memang itu yang terbaik untuk kita. Maaf kalo aku terkesan egois. Tapi enam tahun aku rasa cukup sudah untuk hubungan kita. Bukan aku tidak pernah berharap kita bisa mengucap janji pernikahan di depan altar, disaksikan kedua orang tua kita, tapi ada satu titik aku tidak mampu lagi menerimamu. Aku memilih melepasmu untuk keegoisanku. Kata orang, cinta itu memberi, bukan menuntut. Dan sekali lagi aku minta maaf karena aku egois. Karena aku tidak mau memberi, aku lebih memilih untuk menuntut kamu setelah kita menjalani LDR. Menuntut perhatian kamu, menuntut pendampinganmu di saat aku sedih, menuntut kamu menjadi pejuang dalam hubungan kita, menuntut kamu tentang masa depan kita. Dan saat kamu akhirnya muak dan tidak dapat memberi jawaban apapun padaku, aku memilih untuk menyudahi apa yang sela...